Kisah dari Celah Pintu

“A,B,C,D,E,F,G,H,I,J,K,,L,M,N,O,P,Q,V,X,Y,Z”, lirik 26 alfabet yang dilagukan  tujuh murid dari dalam ruang kelas  paling ujung. Diiringi ketukan rotan sang guru pada deretan  huruf  di papan tulis
Ku tengok, melalui cela pintu. Ruang belajarnya  agak gelap. Tak satupun berseragam, bahkan tiga di antaranya telanjang badan.
” Coba baca, ini apa!” tanya pak guru  mengulang secara acak alfabet di papan. Semangat belajar, terlukis dari ekspresi dan jawaban para murid.

Bangunan papan ini, sekarang lebih kotor dan tak terawat, dibanding dua tahun lalu. Lantainya bolong sana – sini, akibat lapuk.
“Hati hati om, kayu sudah mo patah’ Noperion bocah kelas tiga yg sejak tadi mengekor mengikatkan ku.

” Terimakasih nak,” jawab ku

Di bawah ruangan dimana  mereka belajar. Belasan balok kayu bersepatukan drum – drum karat berisi batu – batu dan tanah memikul keseluruhan bangunan. Kurang lebih selama seperempat abad. Pada lereng yg sering erosi. Entah sampai kapan akan bertahan melawan rayap dan waktu.
Dua atau tiga langkah, di samping bawah bangunan itu, satu rumah guru dalam kondisi lebih memprihatinkan. Ditambal  sulam menggunakan potongan  – potongan  senk yang karatan pula. Miris betul, nasip hotel dua kamar yang dihuni enam orang pahlawan tanpa jasa ini.

Menurut Olinus Egartmang (guru honorer) keseluruhan jumlah murid ada  seratus an orang, tapi  baru aktif hanya empat puluh anak.

”Dulu kami sekolah di sini” kata Johny Uamang (35). Sambil menunjuk ke gereja.Saat kami menapak bebatuan di depan bangunan papan warna hitam.

“‘Tapi hanya sampai kelas tiga saja, kelas empat sampe enam harus ke Banti.” lanjut salah satu alumnus  SD Inpres  HOYa yg saat menjabat sebagai pimpinan gereja Kingmi di kampung nya.

‘Gereja ini, dibangun tahun 1993.
Orang dani dan Orang Damal  yang buat, marga Kibak dan Komagal. Senk – senk dipikul dari jila, jalan kaki ke sini sekitar lima sampe enam hari, sedangkan paku kami bawa dari Tsinga, jalan kaki selama dua sampe tiga hari”

Di lembah Hoya, empat ruangan  SD dibangun oleh LPMI bersamaan dengan  tahun 1999 sampai 2003. Bersamaan dengan Klinik di Kulamaogom. Satu bangunan gereja di putih. Sedangkan tiga ruang lainnya dibangun pemerintah.

Sebelumnya, dipertengahan  tahun 1997 Koperasi Kawasan Besar (KKB) sekarang Yayasan Jaya sakti Mandiri (YJM) membangun lima rumah sehat di kampung Mamontoga dan satu rumah  di kampung Jinoni untuk sebagian  warga  pindahan dari  Utekinogom dekat Tembagapura.
‘Saya ingat’, kenang Uamang ‘ kami pikul kayu dari hutan Jasa pikul  per  batang Rp 1000, Rp 10.000  dan  Rp Rp 100.000 karena lokasi pikul  semakin jauh.
Waktu itu, harga babi Rp 5000 sampai 10.000./ekor.
Itu  uang besar.”  Uang yg kami dapat kami beli babi untuk makan bersama…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *